Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Artikel Industri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Industri. Tampilkan semua postingan

Teori Pengelasan Welding Engineer

Written By Harmony - Healthy on Jumat, 22 November 2013 | 20.34

Pengertian Pengelasan
Pengelasan merupakan penyambungan dua bahan atau lebih yang didasarkan pada prinsip-prinsip proses difusi, sehingga terjadi penyatuan bagian bahan yang disambung. Kelebihan sambungan las adalah konstruksi ringan, dapat menahan kekuatan yang tinggi, mudah pelaksanaannya, serta cukup ekonomis. Namun kelemahan yang paling utama adalah terjadinya perubahan struktur mikro bahan yang dilas, sehingga terjadi perubahan sifat fisik maupun mekanis dari bahan yang dilas.

Perkembangan teknologi pengelasan logam memberikan kemudahan umat manusia dalam menjalankan kehidupannya. Saat ini kemajuan ilmu pengethuan di bidang elektronik melalui penelitian yang melihat karakteristik atom, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap penemuan material baru dan sekaligus bagaimanakah menyambungnya.

Jauh sebelumnya, penyambungan logam dilakukan dengan memanasi dua buah logam dan menyatukannya secara bersama. Logam yang menyatu tersebut dikenal dengan istilah fusion. Las listrik merupakan salah satu yang menggunakan prinsip tersebut.Pada zaman sekarang pemanasan logam yang akan disambung berasal dari pembakaran gas atau arus listrik. Beberapa gas dapat digunakan, tetapi yang sangat popular adalah gas Acetylene yang lebih dikenal dengan gas Karbit. Selama pengelasan, gas Acetylene dicampur dengan gas Oksigen murni. Kombinasi campuran gas tersebut memproduksi panas yang paling tinggi diantara campuran gas lain.

Cara lain yang paling utama digunakan untuk memanasi logam yang dilas adalah arus listrik. Arus listrik dibangkitkan oleh generator dan dialirkan melalui kabel ke sebuah alat yang menjepit elektroda diujungnya, yaitu suatu logam batangan yang dapat menghantarkan listrik dengan baik. Ketika arus listrik dialirkan, elektroda disentuhkan ke benda kerja dan kemudian ditarik ke belakang sedikit, arus listrik tetap mengalir melalui celah sempit antara ujung elektroda dengan benda kerja. Arus yang mengalir ini dinamakan busur (arc) yang dapat mencairkan logam.

Terkadang dua logam yang disambung dapat menyatu secara langsung, namun terkadang masih diperlukan bahan tambahan lain agar deposit logam lasan terbentuk dengan baik, bahan tersebut disebut bahan tambah (filler metal). Filler metal biasanya berbentuk batangan, sehingga biasa dinamakan welding rod (Elektroda las). Pada proses las, welding rod dibenamkan ke dalam cairan logam yang tertampung dalam suatu cekungan yang disebut welding pool dan secara bersama-sama membentuk deposit logam lasan, cara seperti ini dinamakan Las Listrik atau SMAW (Shielded metal Arch welding). Sebagian besar logam akan berkarat (korosi) ketika bersentuan dengan udara atau uap air, sebagai contoh adalah logam besi mempunyai karat, dan alumunium mempunyai lapisan putih di permukaannya. Pemanasan dapat mempercepat proses korosi tersebut. Jika karat, kotoran, atau material lain ikut tercampur ke dalam cairan logam lasan dapat menyebabkan kekroposan deposit logam lasan yang terbentuk sehingga menyebabkan cacat pada sambungan las.

Klasifikasi Proses Las

Sambungan las adalah ikatan dua buah logam atau lebih yang terjadi karena adanya proses difusi dari logam tersebut. Proses difusi dalam sambungan las dapat dilakukan dengan kondisi padat maupun cair. Dalam terminologi las, kondisi padat disebut Solid state welding (SSW) atau Presure welding dan kondisi cair disebut Liquid state welding (LSW) atau Fusion welding.

Proses SSW biasanya dilakukan dengan tekanan sehingga proses ini disebut juga Presure welding Presure welding. Proses SSW memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah dapat menyambung dua buah material atau lebih yang tidak sama, proses cepat, presisi, dan hampir tidak memiliki daerah terpengaruh panas (heat affected zone / HAZ). Namun demikian SSW juga mempunyai kelemahan yaitu persiapan sambungan dan prosesnya rumit, sehingga dibutuhkan ketelitihan sangat tinggi.

LSW merupakan proses las yang sangat populer di kalangan masyarakat kita, sambungan las terjadi karena adanya pencairan ujung kedua material yang disambung. Energi panas yang digunakan untuk mencairkan material berasal dari busur listrik, tahanan listrik, pembakaran gas, dan juga beberapa cara lain diantaranya adalah sinar laser, sinar electron, dan busur plasma. Penyambungan material dengan cara ini mempunyai persyaratan material harus sama, karena untuk mendapatkan sambungan yang sempurna suhu material harus sama, jika tidak proses penyambungan tidak akan terjadi. Kelebihan metode pengelasan ini adalah proses dan persiapan sambungan tidak rumit, beaya murah, pelaksanaannya mudah. Kelemahannya adalah memerlukan juru las yang terampil, terjadinya HAZ yang menyebabkan perubahan sifat bahan, dan ada potensi kecelakaan dan terganggunya kesehatan juru las.

Reaksi Kimia Selama Proses Las
Dalam proses LSW bagian dari logam yang dilas harus dipanasi sampai mencair. Pemanasan logam dengan temperature yang sangat tinggi ini dapat megakibatkan terjadinya reaksi kimia antara logam tersebut dengan Oksigen dan Nitrogen yang ada dalam udara. Jika selama proses las cairan logam las (welding pool) tidak dilindungi dari pengaruh udara, maka logam akan bereaksi dengan Oksigen dan Nitrogen membentuk Oxides dan Nitrides yang dapat menyebabkan logam tersebut menjadi getas dan keropos karena adanya kotoran (slag inclutions), sedangkan kandungan unsur Karbon dalam

logam akan membentuk gas CO yang dapat mengakibatkan adanya rongga dalam logam las (caviety).
Reaksi kimia lainnyapun bisa terjadi dalam cairan logam las (welding pool). Gas Hydrogen dan uap air juga dapat menyebabkan cacat las (welding defect). Hydrogen yang bereaksi dengan Oxides yang ada dalam logam dasar dapat menyebabkan terjadinya uap yang mengakibatkan terjadnya porositas pada logam lasan.

Melindungi Cairan Logam Las dari Pengaruh Udara Luar

Type energi panas yang digunakan untuk pencairan logam dan teknik pelindungan cairan logam las sangat berpengaruh terhadap perubahan komposisi kimawi dalam deposit logam lasan. Ketika nyala oksidasi dalam las Karbit (Oxy-acetylene welding/OAW) akan merubah besi menjadi Oxides sehingga deposit las keropos karena Oxides tersebut tercampur di dalamnya. Untuk mengelas baja karbon akan lebih baik bila digunakan nyala Netral. Pengelasan logam dengan OAW, cairan logam dilindungi dari udara luar oleh reduksi gas hasil pembakaran gas Acetylene.

Dalam teknik pengelasan SMAW, proses pelindungan logam lasan dilakukan dua tahap. Ketika logam las dalam kondisi cair dilindungi oleh bermacam-macam gas hasil pembakaran elektroda las dan ketika sedang membeku cairan ini dilindungi oleh lapisan terak yang terbentu dari fluks yang membeku.

Pelindungan deposit logam las dalam pengelasan Metal inert gas (MIG) dan Tungsten inert gas (TIG), terjadi karena sifat inert gas yang tidak dapat mengikat elemen lain dalam udara sehingga tidak akan terjadi reaksi kimia. Jika las MIG menggunakan gas pelindung CO2, akan terjadi proses deoksidasi CO2 ketika terbakar dengan busur listrik, gas ini terpecah menjadi Karbon monoksida (CO) dan Oksigen (O2). Oksigen yang lepas tidak bersentuhan dengan logam lasan, sedangkan deoxidisers bereaksi dengan Oksigen membentuk lapisan slag yang sangat tipis di atas permukaan deposit logam lasan.

Dalam las OAW deposit logam lasan dapat dilindungi dari oksidasi dan pengaruh reaksi kimia lainnya dengan menggunakan Flux. Flux merupakan gabungan berbagai elemen yang berfungsi meminimalkan terjadinya oksidasi. Komposisi kimia flux bervariasi tergantung jenis logam yang akan dilas. 

Perubahan Sifat Logam Setelah Proses Las
Pencairan logam saat pengelasan menyebabkan adanya perubahan fasa logam dari padat hingga mencair. Ketika logam cair mulai membeku akibat pendinginan cepat, maka akan terjadi perubahan struktur mikro dalam deposit logam las dan logam dasar yang terkena pengaruh panas (Heat affected zone/HAZ). Struktur mikro dalam logam lasan biasanya berbentuk columnar, sedangkan pada daerah HAZ terdapat perubahan yang sangat bervariasi. Sebagai contoh, pengelasan baja karbon tinggi sebelumnya berbentuk pearlite, maka seelah pengelasan struktur mikronya tidak hanya pearlite,

tetapi juga terdapat bainite dan martensite. Perubahan ini mengakibatkan perubahan pula sifat-sifat logam dari sebelumnya. Struktur mikro pearlite memiliki sifat liat dan tidak keras, sebaliknya martensite mempunyai sifat keras dang etas. Biasanya keretakan sambungan las bearsal dari struktur mikro ini.

mendeskripsikan distribusi temperatur pada logam dasar yang sangat bervariasi telah menyebabkan berbagai macam perlakuan panas terhadap daerah HAZ logam tersebut. Logam lasan mengalami pemanasan hingga temperatur 1500o C dan daerah HAZ bervariasi mulai 200° C hingga 1100° C (lihat Gambar 3). Temperatur 1500° C pada logam lasan menyebabkan pencairan dan ketika membeku membentk struktur mikro columnar. Temperatur 200° C hingga 1100° C menyebabkan perubahan struktur mikro pada logam dasar baik ukuran maupun bentuknya.

Distorsi Sambungan Las Akibat Panas
Setiap logam yang dipanaskan mengalami pemuaian dan ketika pendinginan akan mengalami penyusutan. Fenomena ini menyebabkan adanya ekspansi dan konstraksi pada logam yang dilas. Ekspansi dan konstraksi pada logam yang dilas ini menurut istilah metalurgi dinamakan distorsi.

Distorsi dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu: 1) distorsi longitudinal, 2) distorsi transfersal, dan 3) distorsi angular. Distorsi longitudinal terjadi akibat adanya ekspansi dan konstraksi deposit logam las di sepanjang jalur las yang menyebabkan tarikan dan dorongan pada logam dasar yang dilas. Distorsi transfersal terjadi tegak lurus terhadap jalur las yang dapat mengakibatkan tarikan ke arah sumbu tegak jalur las
Distorsi angular menyebabkan efek gerakan sayap burung yang biasanya terjadi karena pengelasan di satu sisi logam dasar.

Ruang Lingkup Pekerjaan Las
Industri manufaktur tidak dapat terlepas dari penyambungan logam. Penyambungan logam dilakukan dengan berbagai tujuan, diantaranya adalah untuk membuat suatu barang yang tidak mungkin dilakukan dengan teknik lain, memudahkan pekerjaan, serta dapat menekan biaya produksi.

Proses penyambungan logam yang banyak digunakan dalam industri manufaktur adalah las. Pengelasan logam merupakan pilihan yang cukup tepat. Pengelasan tidak membutuhkan waktu lama, konstruksi ringan, kekuatan sambungan cukup baik, serta biaya relatif murah.

Penerapan sambungan las sangat luas. Sambungan las banyak digunakan pada konstruksi jembatan, gedung, industri otomotif, industri peralatan rumah tangga, bahkan industri barang dengan bahan plastikpun banyak menggunakan proses las tersebut,

Pengaruh Posisi Proses Las Terhadap Keterampilan Juru Las
Sebagaian besar pekerjaan las dilakukan dengan proses LSW (Liquid state welding) atau proses las dalam kondisi cair. Proses las yang dilakukan dengan kondisi cair ini, posisi saat pengelasan berlangsung sangat berpengaruh terhadap bentuk deposit logam las yang terbentuk. Tidak semua juru las mahir di semua posisi, posisi di bawah tangan (down hand) merupakan posisi yang paling mudah untuk dilakukan, namun ketika mengelas pipa logam dengan posisi miring akan sangat sulit dilakukan. Juru las yang dapat melakukan pengelasan ini adalah juru las kelas satu yang dilengkapi dengan sertifikat standar internasional.

Dalam dunia industri posisi las diberi kode tertentu agar pada saat pengelasan dilakukan tidak terjadi kekeliruan menentukan juru las dan prosedur pengelasan. Ada dua sistim pengkodean yang banyak dikenal, yaitu sistim yang ditetapkan oleh American Welding Society (AWS) dan sistim International Standard Organisation (ISO).

Berdasarkan kode yang ditetapkan oleh AWS, posisi las dikaitkan pada jenis teknik sambungan las, jika sambungan berkampuh (groove) maka kode posisinya dengan huruf G, untuk posisi down-hand 1G, horisontal 2G, vertikal 3G, over-head 4G, pipa dengan sumbu horisontal 5G, dan pipa miring 45° 6G. Jika sambungan las tidak berkampuh/tumpul (fillet) maka kodenya adalah F, untuk posisi down-hand 1F, horisontal 2F, vertikal 3F, dan over-head 4F.

Sistim kode posisi las yang ditetapkan ISO berbeda dengan AWS. Kode posisi las menurut ISO didasarkan pada posisi elektroda saat pengelasan dilakukan, untuk pengelasan plat diberi kode PA, PB, PC, PD, dan PE, sedangkan pengelasan pipa naik PF dan pipa turun PG,

Klasifikasi Bentuk Sambungan Las
Ada beberapa bentuk dasar sambungan las yang biasa dilakukan dalam penyambungan logam, bentuk tersebut adalah butt joint, fillet joint, lap joint edge joint, dan out-side corner joint.

Beberapa Variabel yang Berkaitan dengan Pekerjaan Las.

Penyambungan logam dengan proses pengelasan tidak dapat dilakukan sembarangan, banyak variabel yang harus diperhatikan agar kualitas sambungan sesuai standar yang dipersyaratkan oleh suatu lembaga internasional yang berkaitan dengan pekerjaan las. Variabel tersebut adalah bahan, proses, metode, keselamatan dan kesehatan kerja, peralatan, sumber daya manusia, lingkungan, serta pemeriksaan kualitas sambungan las.

Dalam proses pengelasan logam, bahan yang akan disambung harus diidentifikasi dengan baik. Dengan dikenalinya bahan yang akan dilas, dapat ditentukan prosedur pengelasan yang benar, pemilihan juru las yang sesuai, serta pemilihan mesin dan alat yang tepat

Metode pengelasan logam yang meliputi prosedur pengelasan, prosedur perlakuan panas, desain sambungan, serta teknik pengelasan disesuaikan dengan jenis bahan, peralatan, serta posisi pengelasan saat sambungan las dibuat.

Aspek efektifitas, efisiensi proses, dan pertimbangan ekonomis berkaitan erat dengan pemilihan peralatan las. Pengelasan logam stainless steel akan berkualitas bagus jika menggunakan las TIG, namun akan lebih murah bila ddilas dengan las listrik, sehingga pemilihan mesin dan peralatan las sebaiknya disesuaikan dengan tujuan pengelasan serta biaya operasionalnya.

Dalam pelaksanaan pekerjaan las dibutuhkan Sumber daya manusia yang memenuhi kualifikasi sesuai standar yang ada. Kualifikasi harus mengikuti standar-standar internasional seperti International Institut of Welding (IIW), American Welding Society (AWS), dan masih banyak lembaga-lembaga international di bidang pengelasan logam yang lain. Berdasarkan standar International Institut of Welding (IIW), profesi las terdiri dari Welding Engineer (WE), Welding Technologist (WT), Welding Practitioneer (WP), serta Welder (W).

Profesi Welding Engineer mempunyai tugas untuk menentukan prosedur pengelasan dan prosedur pengujian. Seorang Welding Technologist bertugas untuk menterjemahkan prosedur-prosedur tersebut kepada profesi las yang mempunyai level di bawahnya. Untuk melatih juru las (Welder) dibutuhkan seorang Welding Practititoneer dan yang melakukan pengelasan adalah Welder (juru las).
Lingkungan pada waktu pengelasan dilakukan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas las. Pengelasan yang dilaksanakan pada kondisi lingkungan sangat ekstrim, diperlukan prosedur khusus agar kualitas sambungan terjamin dengan baik. Pengelasan kapal yang terpaksa dilakukan di dalam air memerlukan mesin las yang dilengkapi dengan satu unit peralatan yang dapat melindungi elektroda dari sentuhan air. Disamping itu juga dibutuhkan Welder yang sesuai dengan pekerjaan tersebut, pengelasan dalam air cukup sulit dilakukan karena adanya tekanan gas pelindung terhadap dinding kapal.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan pengelasan. Seorang juru las tidak dapat bekerja dengan baik jika dia tidak menggunakan pakaian dan peralatan keamanan kerja yang pada gilirannya sambungan

las yang dihasilkan akan berkualitas tidak baik. Disamping itu jika peralatan K3 kurang memadahi apabila terjadi kecelakaan tidak dapat diantisipasi secara tepat dan cepat.
Sambungan las yang telah dibuat harus diperiksa agar dapat diketahui kualitasnya. Sambungan las harus dibongkar jika terjadi cacat-cacat yang melampaui batas yang dipersyaratkan. Pemeriksaan dilakukan oleh seorang Welding Inspector (WI). Pemeriksaan las menggunakan uji visual, sinar-X, Ultrasonic, serta masih banyak metode lainnya.

Daftar Pustaka

Dieter, G.E. (1983). Engineering design: A materials and processing approach. Tokyo: McGraw-Hill International Book Company.
Graham E. (1990). Maintenance Welding, Prentice-Hall Inc: New Jersey.
Smith, F.J.M. (1992). Basic fabrication and welding engineering, Hong Kong: Wing Tai Cheung Printing Co. Ltd.

Dasar Pemilihan Pompa

Written By Harmony - Healthy on Selasa, 08 Oktober 2013 | 20.01


Mari membaca !!
Pada suatu jaringan pemipaan dibutuhkan suatu alat untuk menyuplai air dari sumber ke jaringan pemipaan yang akhirya nanti akan didistribusikan ke tiap unit rumah. Pemilihan pompa yang sesuai sangat dibutuhkan dan memerlukan perhatian khusus supaya distribusi air ke tiap unit rumah berjalan seperti yang diharapkan. Pemilihan pompa untuk digunakan pada suatu jaringan pemipaan harus sesuai dengan parameter-parameter tertentu pada perencanaan sistem jaringan pemipaan. Seperti besar debit yang diperlukan, besar head yang diperlukan dan juga letak dan jenis sumber air yang digunakan.
Untuk pemilihan pompa pada perencanaan sistem jaringan pemipaan di komplek citra ini, pompa yang akan dipilih harus memenuhi beberapa parameter tertentu, yaitu :
1. Debit yang dibutuhkan pada sistem jaringan pemipaan di komplek citra ini untuk tiap tahap operasinya adalah sebesar 1,4 L/s (0,0014 m3/s).
2. Pompa yang akan digunakan adalah pompa yang dapat mendistribusikan air dari sumur bor dengan kedalaman 20 m.
3. Dari analisa Epanet 2.0 besar headloss akibat gesekan sepanjang jaringan pemipaan (analisa dari pengurangan head terbesar di suatu titik di pipa cabang) adalah sebesar 0,95 m.
4. Pertimbangan ekonomis. Hal ini untuk pertimbangan pemilihan pompa yang terlalu besar karena mengingat luas jaringan distribusi yang tidak terlalu besar.
Karena pertimbangan parameter-parameter diatas maka dipilih untuk menggunakan jenis pompa jet-sentrifugal (jet-centrifugal pump), hal ini didasarkan karena sumber air yang direncanakan berasal dari sumur bor dengan kedalaman 20 m. Mengingat keterbatasan pompa sentrifugal biasa yang tidak dapat menyuplai air dari kedalaman suction lebih dari 9 meter. Dan juga karena keperluan debit yang tidak terlalu besar, hal ini sesuai dengan karakteristik pompa jet-sentrifugal yang beroperasi pada head yang tinggi dengan besar debit yang tidak terlalu besar.
Pada pemilihan pompa jet-cantrifugal pump ini berbeda dengan prosedur pemilihan untuk pompa lainnya. Hal ini dikarenakan pada jet-centrifugal pump ini terdapat komponen lain yang disebut eductor yang terletak di dalam sumur dengan kedalaman yang direncanakan. Eductor ini merupakan suatu komponen pompa yang tidak mempunyai komponen yang berputar dan diletakkan didalam sumur dengan kedalaman tertentu. Seperti dengan pompa lainnya, eductor ini mempunyai saluran masuk (suction) dan saluran keluar (discharge) air, didalam eductor ini terdapat komponen lainnya yaitu nozzle dan throat.
Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA MicrosoftInternetExplorer4
Berbeda dengan pompa jenis sentrifugal lainnya, pompa jenis ini mempunyai dua buah saluran pipa discharge yang keluar dari rumah pompa, dimana satu pipa ke jaringan pemipaan dan yang satu lagi kembali ke dalam sumur sebagai penggerak awal untuk eductor. Besar debit yang mengalir di kedua pipa tersebut disesuaikan dengan perencanaan yang diatur oleh sebuah diafragma (pengatur debit) yang terdapat pada pompa sentrifugal.
Dasar pemilihan pompa ini biasa digunakan para Mahasiswa untuk membuat laporan Tugas Akhir (TA) atau Skripsi di jurusan / fakultas Teknik Mesin. Admin Memiliki banyak Judul TA / Skripsi tentang fakultas Teknik Mesin/Industri. Untuk mendapatkan file tersebut silahkan bisa menghubungi admin Blog ini.
Terima Kasih

Peranan Kapasitor Dalam Energi Listrik

Written By Harmony - Healthy on Kamis, 05 September 2013 | 01.32


Kehidupan modern salah satu cirinya adalah pemakaian energi listrik yang besar. Besarnya energi atau beban listrik yang dipakai ditentukan oleh reaktansi (R), induktansi (L) dan capasitansi (C). Besarnya pemakaian energi listrik itu disebabkan karena banyak dan beraneka ragam peralatan (beban) listrik yang digunakan. Sedangkan beban listrik yang digunakan umumnya bersifat induktif dan kapasitif. Di mana beban induktif (positif) membutuhkan daya reaktif seperti trafo pada rectifier, motor induksi (AC) dan lampu TL, sedang beban kapasitif (negatif) mengeluarkan daya reaktif. Daya reaktif itu merupakan daya tidak berguna sehingga tidak dapat dirubah menjadi tenaga akan tetapi diperlukan untuk proses transmisi energi listrik pada beban. Jadi yang menyebabkan pemborosan energi listrik adalah banyaknya peralatan yang bersifat induktif. Berarti dalam menggunakan energi listrik ternyata pelanggan tidak hanya dibebani oleh daya aktif (kW) saja tetapi juga daya reaktif (kVAR). Penjumlahan kedua daya itu akan menghasilkan daya nyata yang merupakan daya yang disuplai oleh PLN. Jika nilai daya itu diperbesar yang biasanya dilakukan oleh pelanggan industri maka rugi-rugi daya menjadi besar sedang daya aktif (kW) dan tegangan yang sampai ke konsumen berkurang. Dengan demikian produksi pada industri itu akan menurun hal ini tentunya tidak boleh terjadi untuk itu suplai daya dari PLN harus ditambah berarti penambahan biaya. Karena daya itu P = V.I, maka dengan bertambah besarnya daya berarti terjadi penurunan harga V dan naiknya harga I. Dengan demikian daya aktif, daya reaktif dan daya nyata merupakan suatu kesatuan yang kalau digambarkan seperti segi tiga siku-siku pada Gambar 1. 

Gambar 1. Segitiga Daya
Dari Gambar 1 tersebut diperoleh bahwa perbandingan daya aktif (kW) dengan daya nyata (kVA) dapat didefinisikan sebagai faktor daya (pf) atau cos r.
cos r = pf = P (kW) / S (kVA) ........(1) P (kW) = S (kVA) . cos r................(2) 
Seperti kita ketahui bahwa harga cos r adalah mulai dari 0 s/d 1. Berarti kondisi terbaik yaitu pada saat harga P (kW) maksimum [ P (kW)=S (kVA) ] atau harga cos r = 1 dan ini disebut juga dengan cos r yang terbaik. Namun dalam kenyataannya harga cos r yang ditentukan oleh PLN sebagai pihak yang mensuplai daya adalah sebesar 0,8. Jadi untuk harga cos r <>
a. Membesarnya penggunaan daya listrik kWH karena rugi-rugi.
b. Membesarnya penggunaan daya listrik kVAR.
c. Mutu listrik menjadi rendah karena jatuh tegangan.
Secara teoritis sistem dengan pf yang rendah tentunya akan menyebabkan arus yang dibutuhkan dari pensuplai menjadi besar. Hal ini akan menyebabkan rugi-rugi daya (daya reaktif) dan jatuh tegangan menjadi besar. Dengan demikian denda harus dibayar sebabpemakaian daya reaktif meningkat menjadi besar. Denda atau biaya kelebihan daya reaktif dikenakan apabila jumlah pemakaian kVARH yang tercata dalam sebulan lebih tinggi dari 0,62 jumlah kWH pada bulan yang bersangkutan sehingga pf rata-rata kurang dari 0,85. Sedangkan perhitungan kelebihan pemakaian kVARH dalam rupiah menggunakan rumus sbb:
[ B - 0,62 ( A1 + A2 ) ] Hk 
Dimana : B = pemakaian k VARH 
A1 = pemakaian kWH WPB 
A2 = pemakaian kWH LWBP 
Hk = harga kelebihan pemakaian kVARH 

Untuk memperbesar harga cos r (pf) yang rendah hal yang mudah dilakukan adalah memperkecil sudut r sehingga menjadi r1 berarti r>r1. Sedang untuk memperkecil sudut r itu hal yang mungkin dilakukan adalah memperkecil komponen daya reaktif (kVAR). Berarti komponen daya reaktif yang ada bersifat induktif harus dikurangi dan pengurangan itu bisa dilakukan dengan menambah suatu sumber daya reaktif yaitu berupa kapasitor.

Proses pengurangan itu bisa terjadi karena kedua beban (induktor dan kapasitor) arahnya berlawanan akibatnya daya reaktif menjadi kecil. Bila daya reaktif menjadi kecil sementara daya aktif tetap maka harga pf menjadi besar akibatnya daya nyata (kVA) menjadi kecil sehingga rekening listrik menjadi berkurang. Sedangkan keuntungan lain dengan mengecilnya daya reaktif adalah :
• Mengurangi rugi-rugi daya pada sistem.
• Adanya peningkatan tegangan karena daya meningkat.

Kapasitor yang akan digunakan untuk meperbesar pf dipasang paralel dengan rangkaian beban. Bila rangkaian itu diberi tegangan maka elektron akan mengalir masuk ke kapasitor. Pada saat kapasitor penuh dengan muatan elektron maka tegangan akan berubah. Kemudian elektron akan ke luar dari kapasitor dan mengalir ke dalam rangkaian yang memerlukannya dengan demikian pada saaat itu kapasitor membangkitkan daya reaktif. Bila tegangan yang berubah itu kembali normal (tetap) maka kapasitor akan menyimpan kembali elektron. Pada saat kapasitor mengeluarkan elektron (Ic) berarti sama juga kapasitor menyuplai daya treaktif ke beban. Keran beban bersifat induktif (+) sedangkan daya reaktif bersifat kapasitor (-) akibatnya daya reaktif yang berlaku menjadi kecil.
Rugi-rugi daya sebelum dipasang kapasitor : 
Rugi daya aktif = I2 R Watt .............(5)
Rugi daya reaktif = I2 x VAR.........(6) 
Rugi-rugi daya sesudah dipasang kapasitor : 
Rugi daya aktif = (I2 - Ic2) R Watt ...(7) 
Rugi daya reaktif = (I2 - Ic2) x VAR (8) 

Pemasangan Kapasitor
Kapasitor yang akan digunakan untuk  memperbaiki pf penempatannya ada dua cara :
1. Terpusat kapasitor ditempatkan pada: 
a. Sisi primer dan sekunder transformator
b. Pada bus pusat pengontrol
2. Cara terbatas kapasitor ditempatkan 
a. Feeder kecil
b. Pada rangkaian cabang
c. Langsung pada beban

Perawatan Kapasitor
Kapasitor yang digunakan untuk memperbaiki pf supaya tahan lama tentunya harus dirawat secara teratur. Dalam perawatan itu perhatian harus dilakukan pada tempat yang lembab yang tidak terlindungi dari debu dan kotoran. Sebelum melakukan pemeriksaan pastikan bahwa kapasitor tidak terhubung lagi dengan sumber. Kemudian karena kapasitor ini masih mengandung muatan berarti masih ada arus/tegangan listrik maka kapasitor itu harus dihubung singkatkan supaya muatannya hilang. Adapun jenis pemeriksaan yang harus dilakukan meliputi :
• Pemeriksaan kebocoran
• Pemeriksaan kabel dan penyangga kapasitor
• Pemeriksaan isolator

System Mikroprosesor
Selain komponen induktor pemborosan pemakaian listrik bisa juga terjadi karena: 

Tegangan tidak stabil
Ketidak stabilan tegangan bisa menyebabkan terjadinya pemborosan energi listrik. Ketidakstabilan itu dapat diartikan tegangan pada suatu fase lebih besar, lebih kecil atau berfluktuasi terhadap teganga standar. Sedangkan akibat pembrosan energi listrik itu maka timbul panas sehingga bisa menyebabkan pertama kerusakan isolator peralatan yang dipakai. Ke dua memperpendek daya isolasi pada lilitan. Sementara itu dengan ketidakseimbangan sebesar 3% saja dapat memperbesar suhu motor yang sedang beroperasi sebesar 18% dari keadaan semula. Hal ini tentunya akan menimbulkan suara bising pada motor dengan kecepatan tinggi.

Harmonik
Harmonik itu bisa menimbulkan panas, hal ini terjadi karena adanya energi listrik yang berlebihan. Harmonik itu bisa muncul karena peralatan seperti komputer, kontrol motor dll. Harmonik merupakan suatu keadaan timbulnya tegangan yang periodenya berbeda dengan periode tegangan standar. Periode itu bisa 180 Hz (harmonik ke-3), 300 Hz (harmonik ke-5) dan seterusnya. Harmonik pada transformator lebih berbahaya, hal ini karena adanya sisrkulasi arus akibat panas yang berlebih. Sehingga hal ini bisa mengurangi kemampuan peralatan proteksi yang menggunakan power line carrier sebagai detektor kondisi normal.
Untuk mengoptimalkan pemakaian energi listrik bisa digunakan beban-beban tiruan berupa LC yang dilengkapi dengan teknologi mikroprosesor. Sehingga ketepatan dan keandalan dalam mendeteksi kualitas daya listrik bisa diperoleh. Mikroprosesor itu berfungsi untuk mengolah komponen-komponen yang menentukan kualitas tenaga listrik. Seperti keseimbangan beban antar fasa, harmonik dan surja. Apabila terdapat ketidakseimbangan antara fasa satu dengan fasa yang lainnya, maka mikroprosesor akan memerintahkan beban-beban LC untuk membuka atau menutup agar arus disuplai ke fasa satu sehingga selisih arus antara fasa satu dengan fasa yang lainnya tidak ada. Banyaknya L atau C yang dibuka atau ditutup tergantung dari kondisi ketidakseimbangan beban yang terdeteksi oleh mikroprosesor. Kondisi harmonik yang terdeteksi bisa dihilangkan dengan menggunakan filter LC.

Keuntungan alat ini adalah :
• Mampu mereduksi daya sampai 30%.
• Meningkatkan pf antara 95-100%
• Dapat mengeliminasi terjadinya harmonik.

Dengan demikian pemakaian energi listrik bisa dihemat yaitu dengan cara mengoptimalkan konsumsi energi masing-masing peralatan yang digunakan, memperkecil gejala harmonik dan menstabilkan tegangan. Sehingga energi tersisa bisa dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih membutuhkan. Sedang dampak negatif dari pemborosan energi listrik itu pertama menciptakan ketidakseimbangan beban fasa-fasa listrik yang pada gilirannya akan mempengaruhi over heating pada motor dan penurunan life isolator. Ke dua bagi PLN sebagai penyuplai energi listrik tentunya harus menyediakan energi listrik yang lebih besar lagi.

Daftar Pustaka :
Daya dan Energi Listrik, Deni Almanda, disampaikan pada penataran dosesn teknik elektro di Teknik Elektro UGM, Pebruari 1997, Yogyakarta.
Peranan energi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan, Publikasi Ilmiah, BPPT, Jakarta, Mei 1995.
Ir. Deni Almanda adalah dosen Teknik Elektro & Kepala Perpustakaan FT UMJ, alumni FT UGM dan aktif menulis masalah kelistrikan di berbagai media.

Pemograman Mesin CNC

Written By Harmony - Healthy on Rabu, 17 Juli 2013 | 20.37


DEFINISI:
Program adalah sejumlah perintah dalam bentuk kode yang dipakai untuk mengendalikan mesin.
Permograman adalah pemberian sejumlah perintahd alam bentuk kode yang dimengerti oleh mesin guna mengendalikan mesin tersebut. Ya seperti kalo kita mengoperasikan komputer yang telah dikendalikan oleh prosesor pada inti otaknya. So, segalanya akan lebih mudah (non manual) alias otomasi ketika progam sudah kita masukkan kedalam data base mesin CNC tersebut.
Seorang pembuat program sebelum melakukan pemrograman harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendasar tentang:
a) gambar kerja,
b) urutan pengerjaan,
c) alat-alat potong,
d) teknologi mengenai berbagai metode produksi (proses pemesinan) seperti membubut, mengefrais, mengebor dan lain-lain, dan
e) teknik pemasangan/pemuatan benda kerja.

JENIS-JENIS BAHASA PEMROGRAMAN
- GTL, yaitu bahasa permograman yang digunakan pada komputermini. Bahasa pemrograman ini akrab bagi pemrograman NC danCNC.
- Compact II yang merupakan bahasa pemrograman yang universal.
- MINI APT, yaitu bahasa pemrograman yang cocok untuk mesin-mesin dan benda-benda kerja yang jenisnya banyak.
- MITURN, yaitu bahasa pemrograman yang hanya digunakan  untuk pekerjaan bubut, yaitu bahasa pemrograman dengan karakteristik sebagai berikut:
- hanya perlu melakukan instruksi-instruksi kontur.
- Informasi alat-alat potong tidak perlu digunakan.
- Petunjuk teknologi dihitung sendiri oleh MITURN.
- Petunjuk input yang diberikan sedikit.
- Bahasa pemrograman Sinumerik yang dikeluarkan  oleh Jerman.
- Bahasa pemrograman Panuc yang dikeluarkan oleh Jepang.
- Bahasa pemrograman Emcotronic yang dikeluarkan oleh EMCo Maier Austria.


METODE PEMROGRAMAN
- Berdasarkan cara pemuatan kemesin: Pemrograman manual, pemrograman eksternal, dan  pemrograman dengan menggunakan Komputer eksternal.
- Berdasarkan metode pengukuran: pemrograman absolut dan pemrograman inkrimental.


JENIS-JENIS KODE PERINTAH
A
Dimenasi Radius sekitar X

B
Dimenasi Radius sekitar Y

C
Dimenasi Radius sekitar Z

D
Dimensi radius sekitar sumbu khusus atau third function

E
Dimensi radius sekitar sumbu khusus atau second function

F
Fungsi Asutan

G
Fungsi Penyiapan

H
Tidak digunakan

I
Jarak titik awal radius terhadap pusat radius pada arah X

J
Jarak titik awal radius terhadap pusat radius pada arah Y

K
Jarak titik awal radius terhadap pusat radius pada arah Z

L
Tidak Digunakan

M
Fungsi Tambahan

N
NomorBlok

O
Referensipengulanaganberhenti(ReferensiRewind Stop)

P
Ukuran pergerakan cepat ketiga

Q
Ukuran pergerakan cepat kedua

R
Ukuran pergerakan cepat pertama

S
Fungsi kecapatan putar mesin

T
Fungsi alat potong

U
Dimensi pergerakan kedua pada arah X (inkrimental)

V
Dimensi pergerakan kedua pada arah Y (Inkrimental)


W
Dimensi pergerakan kedua pada arah Z (Inkrimental)

X
Dimensi target pergerakan pertama (Absolut) pada sumbu X

Y
Dimensi target pergerakan pertama (Absolut) pada sumbu Y

Z
Dimensitarget pergerakanpertama(Absolut) pada sumbu Z


 
JENIS-JENIS KODE G
G00
Pergerakan cepat dari titik ke titik

G01
Pergerakanlurus

G02
Pergerakan melingkar searah jarum jam

G03
Pergerakan melingkar berlawanan arah jarum jam

G04
Waktupenahanan

G05
Menggangguprogram (Hold/delay)

G06
Interpolasiparabolik

G07
Tidakdigunakan

G08
Kecepatanasutandalam(mm/minit)

G09
Perlambatanasutandalam(mm/minit)

G10
Linier interpolasi untuk dimensi 10-100inchi

G11
Linier interpolasi untuk dimensi 1 –10 in

G17
Pengaktifan sistem sumbu XY

G18
Pengaktifan sistem sumbu XZ

G19
Pengaktifan sistem sumbu XY, TIDAK DIKABARI.

G20
Interpolasi melingkar sumbu CW untuk ukuran panjang

G21
Interpolasi melingkar sumbu CW untuk ukuran pendek

G30
Interpolasi melingkar sumbu CCW untuk ukuran panjang

G31
Interpolasi melingkar sumbu CCW untuk ukuran pendek

G33
Pemotongan ulir pemakanan tatap

G34
Pemotongan ulir pemakanan meningkat

G35
Pemotongan ulir pemakanan menurun

G40
Pembatalankopensasipahat

G41
Kompensasi radius pahat sebelah kiri

G42
Kompensasi radius pahat sebalah kanan

G43
Penambahan kompensasi pahat

G44
Pengurangan kompensasi pahat

G53
Pembatalan G54

G54-G59
Pengaktifan titik patokan (Position Shif Offsets/PSO)

G60
Nilai target, posisi toleransi 1

G61
Nilai target, posisi toleransi 2 atau loop cycle

G62
Pemposisi pergerakan cepat

G63
Siklus pengetapan

G64
Perubahan asutan atau kecepatan putaran spindel

G70
Pengukuran dalam inchi

G71
Pengukuran dalam mm

G80
Pembatalan ”Canned Cyclus”

G81-G89
Siklus”Canned Drilling and Borring”

G90
Pengukuran Absolut

G91
Pengukuran Inkrimental

G92
Penetapan titik nol benda kerja

G93
Tidak digunakan

G94
Asutan dalam mm/menit

G95
Asutan dalam m/putaran

G96
Putaran spindel untuk permukaan asutan konstan

G97
Putaran spindel dalam putaran per menit


PENGELOMPOKAN KODE G

Kelompokpenahanan
G04

Kelompokpembuatlubang”canned cyclus”
G80, G81-G89

Kelompok kompensasi radius pahat
G40, G41, G42

KelompoksistemSumbu
G17. G18. G19

Kelompok sistem satuan
G70, G71

Kelompok metode pemrograman
G90, G91

Kelompokpenetapantitiknolbenda
G92

Kelompok penetapan titik patokan (PSO)
G53, G54-G59

Kelompokpenetapanasutan
G94, G95


JENIS-JENIS KODE M

M00
Program berhenti, spindel dan cairan pendingin berhenti

M15
Pergerakan cepat dalam arah positif

M01
Pemrograman optional berhenti

M16
Pergerakan cepat dalam arah negatif

M02
Akhir program dan identik dengan M30

M17-M18
Tidak digunakan

M03
Spindel berputar searah jarum jam

M19
Spindel berhenti pada sudut putar tertentu

M04
Spindel berputar berlawanan jarum jam

M05
Spindel berhenti

M30
Propgram berakhir dan kembali ke awal

M06
Perubahan alat potong

M31
Interlock bebas

M07
Cairan pendingin no. 1 hidup

M32-M35
Kecepatan pemotongan tetap

M08
Cairan pendingin no 2. hidup

M09
Cairan pendingin berhenti

M40-M45
Perubahan roda gigi

M10
Fungsipenjepitanbendakerjaaktif

M11
Fungsi penjepitan benda kerja mati

M50
Cairan pendingin no.3 hidup

M51
Cairan pendingin no 4 hidup

M13
Spindel berputar searah jarum jam + pendingin hidup

M14
Spindelberputarberlawananjarumjam + pendinginhidup

M55
Pemotonglinier offsets no. 1

M56
Pemotong lnier offsets no.2

M71
Lokasi1 permukaanradius benda

M60
Perubahan permukaan benda

M72
Lokasi2 Permukaanradius benda

M61
Lokasi permukaan rata benda 1

M62
Lokasi permukaan rata benda 2

M78
Pencekamanlintasanmejamesin(clamp non-activated machine bed-ways) aktif

M79
Pencekamanlintasanmejamesin(clamp non-activated machine bed-ways)tidakaktif

M68
Pencekaman benda kerja aktif

M69
Pencekaman benda kerja tidak aktif


Informasi Lebih lanjut bisa hubungi saya di:
HP : 08978858995
PIN BB : 282D377C

Trims.
 
Support : Creating Website | Nasa Template | NASA
Copyright © 2011. Moreskin Care - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Moreskincare Template
Proudly powered by Blogger